SATU LANGKAH KEDEPAN / PIJAKAN PERTAMA
PROGRAM ( TRAINING OF FASILITATOR )
Dengan melaksanakan atau melakukan tanggung jawab
yang besar selalu di upayakan oleh pemuda-pemuda indonesia salah satunya adalah
pemuda / kader PMII rayon Al-Hambra komisariat majapahit mojokerto yang telah
sukses melaksanakan salah 1 program yang telah di tentukan / program pertama 1
bulan yang lalu, yakni Biro Kaderisasi memberikan peluang-peluang kepada semua
mahasiswa unim dalam mengembangkan atau menambah wawasan tentang ilmu, PRA
MAPABA ke_2 adalah 1 pijakan pertama yang dilakukan berisikan 2 materi yakni
"Training Of Fasilitator" yang bertemakan "Metodologi
penelitian, peranan dan fungsi fasilitator".
1 (satu) Program telah dijalankan sebuah amunisi
pertama dalam membangkitkan semangat-semangat kader dalam mengerjakan tanggung
jawabnya, tidak hanya khusus kader yang ada di Biro Kaderisasi semua biro pun
sebuah bekal untuk mereka ( Biro fakultatif dan Biro minat bakat dan keagamaan
). Dalam melaksanakan program-program yang telah di tentukan, contohnya biro
fakultatif salah satu program yang telah di tentukan adalah program sekolah
mengajar, disini sudah terlihat bahwa kader-kader yang akan kebagian dalam
mengisi program tersebut akan semakin “PD” dan lebih banyak wawasan karena
semua kader sudah mendapatkan minimal 2 (dua) metode dalam menjadi fasilitator
yang handal.
Metode yang
telah di dapatkan oleh para kader rayon Al-Hambra ada 2 yakni :
1. Pedagogy
2. Andragogy
Metode
Pedagogik adalah Di sini, peran fasilitator lebih aktif dari pada audiens
sekaligus menjadi sumber informasi. Metode yang kerap dipakai adalah ceramah.
Sangat cocok ketika diterapkan di lembaga pendidikan kanak-kanak maupun
pendidikan dasar. Gaya top down (dari atas ke bawah) mendominasi berjalannya
forum.
Metode Andragogi Berasal
dari dua kata yaitu andra yang berarti dewasa dan agogos yang bermakna
memimpin. Berarti metode andragogi yaitu cara fasilitasi model orang dewasa.
Teknik ini mangutamakan peran dari audiens dan tugas fasilitator hanya
mengarahkan, mempermudah kerumitan, dan berusaha menyimpulkan ide gagasan
terserak yang keluar dari pemikiran audiens. Metode ini tepat jika audiens yang
dihadapi sudah mempunyai bekal yang cukup atas materi-materi yang akan
disampaikan dan biasanya diterapkan dalam lembaga pendidikan tingkat atas dan
pendidikan tinggi.
Ibarat proses pengisian air
dalam gelas, dalam metode ini fasilitator beranggapan bahwa audiens adalah
sebuah gelas yang sudah terisi air tetapi belum penuh. Tugas fasilitator adalah
memenuhi gelas tersebut dan kalau bisa sampai tumpah dengan cara mengeksplorasi
ide dari audiens. Feed back (umpan balik) sangat mendukung metode ini dengan
harapan fasilitator tidak mendominasi forum.
Komentar
Posting Komentar